Hangatnya Bulan Juli

Untuk kamu; hangatnya bulan Juli—mentariku.


Dari hati yang terus merindu, untuk sosok yang singgah di hati—

Apapun yang terjadi, dari miliaran kemungkinan, jutaan rasa, ribuan pembicaraan, ratusan kenangan, puluhan pilihan—kamu akan selalu menjadi pusat semestaku. 

-

Sang candra telah tenggelam bersilih remangnya baskara. Sejuknya angin musim semi seakan-akan siap menyapa dan merusuk kulit siapapun yang tengah berkelana di saat fajar tengah menyelimuti kota.

Di sana, berdiri sosok lelaki. Di samping sebuah batu nisan—dengan kemeja hitamnya, ia terduduk. Matanya sendu, tangannya ragu untuk memeluk nisan yang tengah di depannya.

Netranya berusaha mencari sebuah distraksi fana. Iris abu dan toskanya berkeliling, menelisik langit fajar; jejak rangkaian kartika yang berserakan menghiasi langit perpaduan merah muda dan jingga ini mampu membuat ia lupa akan yang tengah terjadi sejenak. Pula sang baskara masih enggan menunjukkan wujud sepenuhnya.

Sosok Tuan tersebut menghela napas—guna mencoba menenangkan diri—ia bahkan tak sadar bahwa selama ini napas menegang di ujung tenggorokan. Diusapkan telapak tangannya pada batu nisan di depannya sembari mematri lengkungan kurva tipis pada labiumnya.

“Aku pulang.” Si Tuan berucap lirih, pelan dan serak. Hampir berbisik, hampir hilang. Rasanya seperti leher tercekat, ribuan kata tertahan di tenggorokan. Hanya ada rasa pilu. Dan bening-bening air mata yang mulai berjatuhan tanpa diundang.

Menyeka linangan air matanya, ia meletakkan seikat bunga lily berwarna putih yang sedaritadi ia genggam di atas nisan.

“Kali ini akan ku lafalkan lewat Tuhan, agar Dia bisa memberitahumu, bahwa aku sedang merindu.”

-

Musim semi sudah datang. Kamu dulu tak henti-hentinya bilang padaku, bahwa kamu sangat menunggu untuk musim semi tahun ini.

Kamu bilang begitu. Tetapi kamu pulang terlebih dahulu.

Tidak. Aku tidak marah. Mungkin sedikit, tapi bukan kepadamu. Tapi kepada semesta—yang memisahkan kita berdua.

Aku membawakan bunga kesukaanmu, lagi. Untuk menghias tempat peristirahatanmu. Kamu selalu menyukainya. Katamu, bunga lily cantik. Berdasarkan warnanya, lily punya banyak arti yang berbeda. Dan itu yang membuatnya menarik.

Mentari, saat itu aku tidak percaya diri. Dan sekarang aku menyesal tidak mengatakannya langsung kepadamu.

Aku mengagumimu, terlalu.

Kehadiranmu, selantas itu. Terlalu banyak potongan-potongan memori, layaknya kaset lama terputar secara tersendat.

Seandainya aku katakan lebih awal. Mungkin aku bisa memelukmu, menceritakan rencana-rencana hidupku. Aku bisa menggenggam kamu di tanganku, duniaku.

Aku rindu. Layaknya genangan di musim gugur, tak pernah hilang—sebentar lagi jadi lautan.

Aku rindu rona pipimu yang hadir ketika kau tersipu—dengan butiran kartika menghiasi pipimu.

Aku rindu tawamu yang seperti musik di telingaku.

Aku rindu pelukanmu di saat hari biruku.

Aku rindu hangatnya kehadiranmu.

Aku rindu. Kamu harus tau.

Kamu harus tau aku bisikkan kata rindu pada Tuhan untukmu setiap hari.

Saat kita bertemu kembali, aku akan ceritakan kamu. Tentang hari-hariku tanpamu. Tentang mimpi-mimpi yang telah aku gantung di langit kian lenyap karena ketidakhadiranmu. Tentang malam-malam yang aku habiskan untuk meratapi hadirmu yang tak kembali.

Ah, akan aku ceritakan juga. Cerita-cerita penuh suka. Penuh bahagia walau tanpa hadirmu.

Hari-hariku tak semenyenangkan dulu. Tak seperti saat ada hadirmu. Tak secerah senyummu. Tak sehangat pelukanmu.

Tetapi di surat terakhirmu, tertulis, bahwa aku harus tetap laju—layaknya kereta di bulan Januari yang selalu kita tumpangi kala kamu ingin berkunjung kerumahku.

Ironi sekali. Padahal kamu sudah berjanji untuk tidak pergi diam-diam.

Terlalu banyak kata yang ingin aku sampaikan—beribu, jutaan, bahkan miliaran kata—tapi terimakasih aku sampaikan pada Tuhan hari ini, terimakasih sudah mengizinkan aku tuk mencintaimu. Untuk perasaan yang tak diketahui besar dan jumlahnya, untuk perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh ribuan kata dan frasa.

Doa akan selalu ku lafalkan agar Tuhan menjagamu dengan baik di sana. Agar di kehidupan selanjutnya, di masa hidup lainnya, di waktu yang berbeda, kita bisa selalu bersama.

Istirahat yang tenang di awan.

Aku akan selalu merindukanmu. Selalu. Selalu. Dan selalu.

Dari Shouto, pangeran esmu, si dingin bulan Januari, atau apalah kau menyebutku.

Komentar