UNSUR INTRINSIK

 Ini Perasaanku Pak

Cerpen Karangan: Aulia Taureza


Terkadang siswa juga butuh didengar, karena ia selalu mendengarkan. Terkadang siswa juga butuh dimengerti, karena mereka juga akan mencoba

memahami. Tidak semua orang sependapat, kan?


Tik tok tik tok ...

Jam dinding di ruang X-IPA-1 sudah menunjukkan 4 sore, namun Pak Soni selaku

guru Fisika paling killer di SMA 4 ini masih bergurau ria di depan kelas membuat hampir lima puluh persen anggota X-IPA-1 ini tertidur. 


Nesya Point of View

Mulutku sudah menguap sejak dua jam yang lalu, ketika semua murid di kelas

sebelah pada berhamburan keluar sedangkan tidak dengan kelasku ini, ya tiap hari

Sabtu adalah hari paling sial bagi kami, penduduk X-IPA-1. “Ssttt... Nes... Oi...” aku sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu, siapa lagi

kalau bukan Si Ozan nyebelin, dia pasti mau minta kertas contekan, mana otak gua

lagi padet lagi. Yup, contekan! Meski nggak ulangan tapi setiap jam pelajaran Mr. Killer haruslah

seperti ulangan, jadi jika seminggu dua kali pertemuan selama enam jam maka itu

derita kami semua, berteman dan berbicara bersama fisika tercinta. “Kosong Lima,” ucap Pak Soni, tentu saja aku melotot, itu kan nomor absenku, aku

segera melihat ke arah nomor dadaku yang terpampang 05 di sana, habis gua. “Silakan keluar!” Perintahnya, “Ap–” aku langsung menutup mulut ketika sadar bahwa yang ingin kuajak bicara ini

bukan manusia, jika saja aku boleh bertanya, apa salah saya?


“Tiga belas yang salah, kosong lima tidak bersalah,” tiba-tiba suara lantang itu

seketika membuat langkahku terhenti, aku baru saja hendak melangkah keluar

X-IPA-1 dengan mata berkaca-kaca. “Dua tujuh, silakan memberi saksi!” Katanya, benar-benar seperti di pengadilan. “Tiga belas melempar kertas yang berisi minta contekan pada kosong lima, tanpa

perencanaan kosong lima sebelumnya.”

“Tidak, Nesya dan saya berkomplotan pak,” bela Ozan, si nomor tiga belas, tentu saja

mataku membulat, jelas-jelas aku tak menghiraukannya tadi. “Silakan dibaca pak isinya!” Ucap si dua tujuh tadi. Pak Soni melangkah mendekati kertas yang berada di mejaku itu, sebelum pak Soni

mengambil, Ozan terlebih dahulu mengambilnya. “Saya dan Nesya bersedia di hukum pak,” kata Ozan, tentu saja aku tak percaya, tega-teganya Ozan berkata seperti itu, aku sedang difitnah, mana mungkin aku ikut

dihukum jika aku tak bersalah, aku tidak terlibat perencanaan itu, Ozan sendiri yang

meminta jawaban itu dan aku belum tentu memberinya. “Kenapa kosong lima dihukum? Yang salah tiga belas, ini tidak adil namanya,” bela si

dua tujuh. “Ozan, mana kertasnya atau kamu saya keluarkan dari mata pelajaran fisika?” Gertak

Pak Soni, Ozan ketakutan. Nesya, tulis semua jawaban elu, -13


“Kalian bertiga keluar!” Perintah Pak Soni, “Saya?” Kata si dua tujuh, “Ya,”

“Loh, tidak mau.”

“Melanggar kamu ya!”

“Saya tidak bersalah, jadi saya tidak berhak dihukum.”

“Kamu menimbulkan keributan.”


“Membuktikan kebenaran katanya menimbulkan keributan. Kalau semua orang

bapak salahkan bahkan sebelum berbicara dan hendak bertanya dimana salahnya,

itu namanya ingin menang sendiri.”

“Tidak sopan”

“Ini keluhan dan isi hati saya. Jika bapak ingin dimengerti, mohon mengerti muridnya. Kami di sini belajar, bukan seperti robot yang bisa diatur seenaknya. Kami di sini

butuh senyuman dan keramahan, bukan amarah. Kami butuh pendidikan bukan

tuntutan. Kami berhak dihukum jika salah, bukan dihukum sesuai kemauan anda. Jika ingin dihargai, jangan jadikan kami robot!” Pak Soni terdiam, si dua tujuh itu menatapnya, Pak Soni seolah mencerna kata kata

si dua tujuh, selama ini Ashari, si dua tujuh, adalah sosok paling pendiam di antara

kami, dia selalu mendapat nilai tertinggi di fisika, jika semua mengeluh, maka dia

akan semangat mengerjakan tapi ternyata dia tetaplah siswa seperti kami, dia juga

memiliki perasaan sebagai remaja labil yang tidak suka guru killer, karena sekarang

masih SMA tahapan dididik bukan seperti kuliah tahapan pengarahan dari apa yang

telah dididik.


Jawaban:

1. Tema: Pendidikan

2. Amanat: Murid berhak dihukum jika salah, bukan dihukum sesuai kemauan guru.

3. Alur: Alur maju.

4. Tokoh dan Penokohan:

  • Nesya: Baik.
  • Ozan: Pemfitnah.
  • Pak Soni: Suka menghukum murid sesukanya.
  • Ashari: Berani membela temannya dan tegas.
5. Latar:
  • Latar tempat: Kelas X-IPA-1.
  • Latar suasana: Melelahkan.
  • Latar waktu: Jam 4 sore.
6. Sudut pandang: Orang pertama.

7. Gaya bahasa: Majas hiperbola.

Komentar